Longsor Tambang Batu Kapur Ratakan Rumah Warga Banyumas, Puluhan Keluarga Terancam Kehilangan Tempat Tinggal
Koran Sukabumi– Longsor Tambang Batu Kapur menimpa wilayah tambang batu kapur di Desa Karangjati, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu pagi (26/10). Peristiwa ini menelan sejumlah rumah warga, meratakan bangunan, dan membuat puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Longsor Tambang Batu Kapur Kejadian Longsor
Longsor terjadi sekitar pukul 07.30 WIB saat sebagian tebing di area tambang batu kapur yang berada di tepi permukiman warga runtuh. Material longsor berupa tanah, batu kapur, dan puing bangunan menghantam minimal 12 rumah warga, beberapa di antaranya hancur total.
Seorang saksi mata, Slamet Riyadi, mengatakan, “Awalnya terdengar suara gemuruh dari tebing. Dalam hitungan menit, tanah dan batu menimpa rumah-rumah di bawahnya. Saya dan keluarga hanya sempat lari menyelamatkan diri.”
Baca Juga: Trump Tiba di Malaysia untuk Hadiri KTT ASEAN, Dijemput Anwar Ibrahim
Korban dan Evakuasi
Hingga Minggu sore, data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat 15 orang luka-luka ringan dan 2 orang hilang akibat longsor. Tim SAR gabungan dari BPBD, Polri, TNI, dan relawan sedang melakukan pencarian korban yang tertimbun.
Selain itu, lebih dari 30 keluarga terdampak, terpaksa mengungsi ke rumah saudara atau posko darurat yang didirikan pemerintah desa setempat. Tim kesehatan menyiagakan layanan medis di lokasi evakuasi untuk memberikan pertolongan pertama.
Penyebab Longsor
Menurut Kepala BPBD Banyumas, Eko Prasetyo, longsor diduga terjadi akibat aktivitas tambang batu kapur yang tidak terkontrol dan kondisi geologi yang labil. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir juga memperparah tanah di area tambang menjadi mudah runtuh.
“Sejauh ini, kami meninjau area terdampak dan menduga ada praktik tambang ilegal di beberapa titik yang berdekatan dengan permukiman. Ini harus segera ditangani agar tidak terjadi bencana susulan,” jelas Eko.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Selain korban jiwa dan hancurnya rumah, longsor ini menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Jalur jalan desa tertutup tanah dan batu, membuat akses warga terputus. Sumur warga juga tercemar lumpur dan material tambang, mengancam ketersediaan air bersih.
Warga yang kehilangan rumah kini menghadapi tekanan psikologis dan ekonomi. Banyak di antara mereka bergantung pada pertanian atau usaha kecil yang ikut terdampak akibat tanah tertimbun material tambang.
Tindakan Pemerintah dan Penegakan Hukum
Pemerintah Kabupaten Banyumas telah mengerahkan tim gabungan untuk melakukan pengamanan area rawan longsor dan memastikan tambang batu kapur berhenti beroperasi sementara. Pemerintah juga berencana mengevakuasi warga dari lokasi yang dianggap sangat berbahaya.
Kepolisian setempat menyatakan akan menelusuri apakah ada unsur kelalaian atau aktivitas tambang ilegal yang memicu longsor ini. “Jika ditemukan pelanggaran hukum, kami akan menindak sesuai ketentuan,” kata Kapolres Banyumas, AKBP Adi Wibowo.
Longsor Tambang Batu Kapur Upaya Pemulihan
BPBD Banyumas bersama Dinas Sosial menyiapkan bantuan darurat berupa makanan, air bersih, dan tenda pengungsian. Pemerintah daerah juga merencanakan relokasi rumah warga ke lokasi aman. Namun, pemulihan jangka panjang memerlukan koordinasi dengan pihak tambang, pemerintah provinsi, dan pihak terkait agar bencana serupa tidak terulang.
Ahli geologi dari Universitas Jenderal Soedirman, Dr. Agus Santoso, menekankan perlunya evaluasi seluruh tambang batu kapur di wilayah Banyumas. “Perlu peta risiko geologi dan peraturan tegas bagi tambang yang berada dekat permukiman. Ini penting untuk melindungi warga dan lingkungan,” ujarnya.
Kesimpulan
Longsor tambang batu kapur di Banyumas menunjukkan rentannya kawasan tambang yang berdekatan permukiman. Selain korban jiwa dan kerusakan rumah, bencana ini menimbulkan dampak sosial, psikologis, dan lingkungan yang signifikan. Upaya pemulihan memerlukan koordinasi lintas sektor, penegakan hukum terhadap aktivitas tambang ilegal, dan mitigasi risiko jangka panjang agar tragedi serupa tidak terjadi lagi.






