Minat Baca Masyarakat Rano Karno Klaim Kunjungan ke Perpustakaan TIM Melonjak:
Koran Sukabumi — Minat Baca Masyarakat Di tengah kekhawatiran tentang menurunnya budaya literasi di era digital, aktor senior sekaligus Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Rano Karno, justru membawa kabar menggembirakan. Ia mengklaim bahwa kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Taman Ismail Marzuki (TIM) mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Rano, data internal menunjukkan peningkatan kunjungan harian hingga 80 persen dibandingkan tahun lalu, membuktikan bahwa minat baca warga Jakarta masih tinggi dan bahkan menunjukkan tren positif.
Banyak yang bilang orang Jakarta sudah malas baca. Tapi buktinya, ruang baca kita penuh. Anak-anak muda datang, bukan cuma untuk selfie, tapi benar-benar baca buku dan berdiskusi,” ujar Rano dalam konferensi pers di TIM, Kamis (20/9).
Perpustakaan Jadi Ruang Kreatif Baru
Rano Karno menjelaskan bahwa lonjakan pengunjung ini tidak lepas dari revitalisasi besar-besaran kawasan TIM, termasuk modernisasi perpustakaan yang kini tampil lebih terbuka, nyaman, dan ramah anak muda.
Sekarang pengunjung bisa akses ribuan e-book gratis, ikut kelas literasi, diskusi buku, sampai nonton pemutaran film dokumenter. Ini bukan perpustakaan biasa, tapi pusat kebudayaan membaca,” tambahnya.
Fasilitas seperti co-working space, pojok anak, hingga area pameran juga menjadikan perpustakaan TIM bukan sekadar tempat membaca, tapi juga ruang komunitas yang hidup dan dinamis.
Baca Juga: Diduga Sopir Mengantuk Truk ODOL di Sampang Seruduk Dump Truk
Lonjakan Pengunjung: Siapa Saja Mereka?
Data dari pengelola TIM menyebutkan bahwa mayoritas pengunjung perpustakaan kini berasal dari kalangan usia 18–30 tahun, termasuk pelajar, mahasiswa, dan pekerja kreatif. Mereka datang tidak hanya untuk membaca, tapi juga untuk mencari referensi tugas, bekerja secara remote, atau mengikuti kegiatan komunitas literasi.
Farah Nabila, mahasiswi dari Universitas Negeri Jakarta, mengaku rutin ke perpustakaan TIM karena suasananya yang tenang dan koleksinya yang variatif.
Aku suka bagian literatur nusantara dan biografi tokoh-tokoh nasional. Dulu jarang ke perpustakaan, sekarang malah jadi tempat nongkrong produktif,” ujarnya.
Dukungan Program Literasi Pemprov DKI
Jakarta Membaca Setiap Hari, kampanye digital yang mendorong warga membaca minimal 10 menit sehari.
Book On The Street, program distribusi buku gratis di halte, taman, dan stasiun.
Diskusi Buku Mingguan yang menghadirkan penulis dan editor nasional secara langsung di TIM.
Rano menegaskan bahwa membangun budaya baca tidak bisa instan. Butuh ekosistem yang mendukung, termasuk ketersediaan bahan bacaan, ruang publik yang nyaman, serta akses digital yang merata.
Minat Baca Masyarakat Tidak Sekadar Tren Sesaat?
Namun, sebagian pengamat menilai bahwa lonjakan ini perlu dilihat secara lebih mendalam. Apakah benar minat baca meningkat, atau ini hanya efek dari tempat baru yang sedang populer?
Itu baru indikator minat baca yang sesungguhnya,” jelas Putri.
Penutup: Harapan untuk Literasi Kota
Apapun latar belakangnya, peningkatan kunjungan ke perpustakaan TIM menunjukkan bahwa ruang baca masih punya tempat di hati masyarakat urban, bahkan di tengah derasnya arus konten digital.






