Sampah Menumpuk di Bandung, Warga Keluhkan Bau Menyengat Usai Kuota ke Sarimukti Dipangkas
koran Sukabumi – Sampah Menumpuk Kota Bandung kembali menghadapi darurat sampah. Dalam sepekan terakhir, tumpukan sampah terlihat menggunung di berbagai titik TPS (Tempat Pembuangan Sementara), trotoar, hingga pinggir jalan utama. Kondisi ini terjadi setelah kuota pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti dikurangi secara drastis, menyusul upaya pengendalian beban lingkungan di kawasan tersebut.
Kebijakan pembatasan tersebut berdampak langsung pada sistem pengangkutan sampah dari kota ke TPA. Akibatnya, volume sampah yang tidak terangkut terus menumpuk, dan menimbulkan bau menyengat yang mengganggu kenyamanan warga di sekitar lokasi penumpukan.
TPS Penuh, Sampah Tumpah ke Jalan
Di beberapa TPS seperti di daerah Cibaduyut, Antapani, dan Kiaracondong, tumpukan sampah sudah melewati kapasitas kontainer. Plastik, limbah rumah tangga, dan sisa makanan berserakan hingga ke badan jalan, menimbulkan pemandangan yang tidak sedap sekaligus memicu keluhan warga.
Bau sampah sampai masuk ke rumah. Setiap pagi harus tutup jendela karena tidak tahan baunya,” keluh Deni, warga di kawasan Lengkong.
Warga lain menyebut mulai banyak lalat dan tikus yang bermunculan di sekitar tumpukan, meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan lingkungan.
Pemkot Bandung Akui Terkendala Kuota TPA
Pemerintah Kota Bandung mengakui kondisi darurat ini terjadi karena pengurangan kuota harian pembuangan ke TPA Sarimukti yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Jika biasanya Bandung bisa membuang sekitar 1.200 ton sampah per hari, kini hanya diberi jatah sekitar 600–700 ton, membuat hampir setengah sampah harian kota tertahan.
Kami sedang melakukan negosiasi ulang dan juga mencari solusi darurat untuk sementara waktu,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Asep Suherman.
Ia menyebutkan bahwa pembatasan ini merupakan imbas dari kondisi TPA Sarimukti yang mulai kelebihan beban pasca insiden kebakaran tahun lalu dan penutupan TPA alternatif lainnya.
Baca Juga: Prabowo Siapkan Tugas Baru untuk Eks Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi
Sampah Menumpuk Solusi Sementara dan Imbauan ke Warga
Sebagai langkah darurat, Pemkot menyebut telah mengalihkan sebagian aliran sampah ke TPS regional terdekat, namun kapasitasnya juga terbatas. Selain itu, petugas dikerahkan untuk mempercepat proses pemilahan dan pemampatan sampah di TPS agar lebih efisien sebelum diangkut.
Warga juga diminta mengurangi volume sampah rumah tangga dengan memilah sampah organik dan nonorganik, serta mendaur ulang semampunya. Beberapa RW bahkan mulai menghidupkan kembali program bank sampah untuk menahan sementara laju pembuangan.
Sampah Menumpuk Krisis Sampah Bukan Hal Baru
Masalah pengelolaan sampah bukan pertama kali terjadi di Bandung.
Pakar lingkungan dari ITB, Dr. Andhika Mahesa, mengatakan bahwa persoalan ini menunjukkan perlunya pendekatan desentralisasi pengolahan sampah.
Bandung harus segera mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah mandiri, seperti RDF (Refuse Derived Fuel) atau insinerator skala kecil di beberapa titik,” ujarnya.
Warga Harap Tindakan Nyata, Bukan Sekadar Imbauan
Kita bisa pisahkan sampah, tapi kalau petugas tetap campur saat ambil, buat apa?
Kesimpulan
Darurat sampah di Bandung menjadi cerminan krisis pengelolaan limbah kota besar yang terlalu bergantung pada satu TPA.






